9 Langkah Merombak Budaya Perusahaan Supaya Menjadi Kuat

Dalam sebuah penelitian (Deloitte Global Human Capital Trends 2015) yang melibatkan 3.300 bisnis di Amerika Serikat, dihasilkan laporan bahwa budaya perusahaan adalah masalah utama dalam pikiran para eksekutif saat ini karena perusahaan dengan budaya positif dan kuat akan memiliki kinerja yang lebih baik, produktivitas yang tinggi dan keuntungan yang meningkat dibandingkan dengan perusahaan yang tidak memiliki budaya positif. Buktinya adalah, perusahaan yang masuk dalam perusahaan papan atas di Amerika (Fortune 500) adalah perusahaan-perusahaan yang menjadi tempat terbaik untuk bekerja, dan biasanya dikenal sebagai perusahaan yang memiliki budaya yang kuat serta positif , serta memiliki kinerja saham yang dua kali lipat dibandingkan dengan organisasi lain.

Hasil penelitian tersebut memberikan 10 rekomendasi langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam rangka merombak budaya organisasi perusahaan yang masih belum kuat:

1. Tentukan seperangkat nilai-nilai dan perilaku positif yang ingin dicapai.

Apakah pemimpin perusahaan sudah dengan jelas menggambarkan nilai-nilai dan perilaku positif yang dicari? Pastikan seluruh karyawan dapat benar-benar memahami dan saling berhubungan antara budaya terhadap perilaku sehari-hari. Oleh sebab itu, harus ditentukan dulu nilai-nilai dan perilaku yang kuat dan positif, didefinisikan dan diartikulasikan. Nilai-nilai ini juga harus bisa masuk ke semua tingkatan dan level, mulai dari sekretaris untuk manajer menengah hingga eksekutif.

2. Budaya harus selaras dengan strategi dan proses.

Coba lihat kembali misi perusahaan, visi dan nilai-nilai, serta mengevaluasi apakah sudah berjalan sesuai dengan bisnis proses sumber daya manusia yang sudah ditentukan sebelumnya, termasuk perekrutan, manajemen kinerja, kompensasi, manfaat dan promosi bakat. Mulailah memikirkan tentang bagaimana merekrut dan manajemen bakat membangun budaya Anda ke masa depan perusahaan.

3. Perubahan budaya harus di dukung semua lini.

Supaya perubahan budaya bisa terwujud, hal yang paling utama adalah harus menjadi prioritas para CEO dan dewan direksi. Buatlah kerangka kerja yang bermaksud untuk memahami budaya organisasi dan dampaknya pada kinerja perusahaan. Bekerja dengan kerangka yang jelas memudahkan CEO dalam mengevaluasi budaya organisasi.

4. Tentukan hal yang bersifat tidak bisa dinegosiasikan.

Ketika mulai memutuskan perubahan budaya, lihatlah budaya perusahaan saat ini dan pilih aspek budaya mana yang Anda ingin pertahankan. Departemen sumber daya manusia memiliki peran penting untuk mencari tahu ini. Yang harus dipertahankan berarti itu positif dan memang tidak bisa dihapus dari budaya perusahaan saat ini.

5. Sejajarkan budaya perusahaan dengan merek perusahaan.

Budaya harus bersinergi dengan baik dengan karyawan dan pasar. Kemitraan antara departemen sumber daya manusia dengan pemasaran sungguh diperlukan. Perusahaan harus mencari cara untuk mengaktifkan pikiran lini karyawan terhadap merek. Ingatkan dan terapkan bahwa budaya positif berpengaruh terhadap pelanggan. Jika hari ini adalah pengalaman buruk bagi pelanggan, maka ini akan menjadi musibah di keesokan harinya.

6. Adakan pengukuran.

Dapatkan nilai-nilai efektivitas usaha perusahaan dengan cara menerapkan survei karyawan. Survey analisa bakat dapat mengidentifikasi kesenjangan antara perilaku yang diinginkan dengan yang sebenarnya sedang berlangsung. Survey lainnya adalah penggunaan etika dalam bekerja.

7. Jangan terburu-buru melakukannya.

Mengubah budaya bisa berlangsung berbulan-bulan bahkan bisa beberapa tahun. Hal ini sangat tergantung pada bagaimana perusahaan mengakses kesenjangan yang benar antara budaya saat ini dan budaya yang harus dimiliki. Mulailah dengan membuat alasan yang jelas mengapa perusahaan harus berubah.

8. Berinvestasi sekarang.

Jangan menunggu bahwa perubahan budaya akan segera datang. Dibutuhkan investasi untuk sampai ke titik di mana budaya kuat dapat terwujud. Karena dibutuhkan waktu maka harus dimulai dari sekarang dan dimulai oleh para pemimpin perusahaan

9. Jadilah pemimpin yang berani dan memiliki sikap memimpin.

Para pemimpin perusahaan tidak harus berada dalam posisi berpengaruh yang memiliki pengaruh. Namun apabila pemimpin melakukan perubahan dengan nyata dan tanpa paksaan, lama kelamaan seluruh lini karyawan akan mengikutinya